Taksonomi
Kingdom: Animalia
Phylum: Chordata
Class: Teleostei
Order: Anguilliformes
Family: Muraenidae
Genus: Pseudechidna
Taksonomi
Kingdom: Animalia
Phylum: Chordata
Class: Teleostei
Order: Anguilliformes
Family: Muraenidae
Genus: Pseudechidna
Habitat & Distribusi : Samudra Hindia-Pasifik
Makanan : Krustasea dan moluska
Ukuran: 50 - 80 cm
Jangka Hidup: 12 - 20 tahun
Deskripsi
Belut Pita Putih, juga dikenal sebagai Belut Hantu, dicirikan oleh tubuhnya yang berwarna putih krem dengan bintik-bintik hitam pada kepala. Seperti belut pita pelangi, ia memiliki gaya renang yang elegan seperti pita. Ia memiliki penglihatan sederhana, tetapi penciumannya sangat kuat berkat kedua pasang lubang hidung (nostril) yang ada pada bagian ujung moncong, menghadap ke bawah serta pada bagian yang sejajar dengan matanya. Penciuman kuat ini sangat membantunya ketika ia mau berburu makanan di malam hari. Umumnya ditemukan hidup di perairan terumbu karang, bersembunyi di pasir yang warnanya ia tiru.
Perilaku
Mereka umumnya hidup menyendiri (menyembunyikan diri), menghabiskan sebagian besar waktunya dengan tubuh yang terkubur dan hanya menyisakan kepalanya yang menjulur keluar untuk menyergap ikan kecil dan udang. Mereka adalah hewan soliter, karnivora, dan sering kali menunjukkan postur menganga dengan mulut terbuka untuk menakuti ancaman.
Reproduksi
Belut pita putih (Pseudechidna brummeri), yang juga dikenal sebagai belut hantu (ghost eel), adalah belut moray kriptik yang jarang terlihat dan umumnya dianggap sebagai hermafrodit protandri (matang sebagai jantan lalu berubah menjadi betina). Mereka mendiami rataan terumbu yang dangkal dan puing-puing karang pesisir di wilayah Indo-Pasifik, serta biasanya hidup sebagai individu dewasa yang soliter dan menetap (sedentary).
Komunikasi & Persepsi
Belut Pita Putih (Pseudechidna brummeri), yang juga dikenal sebagai Belut Hantu (Ghost Eel), adalah belut moray yang sangat kriptik dan jarang terlihat yang ditemukan di wilayah Indo-Pasifik. Mereka umumnya mendiami rataan terumbu yang terlindung, laguna, dan puing-puing karang pada kedalaman hingga 10 meter. Karena sifatnya yang elusif (sulit ditemukan), gemar bersembunyi, serta memiliki kebiasaan nokturnal, studi spesifik mengenai komunikasi dan persepsi ikan ini masih sangat jarang
Predator
Ikan terumbu karang yang lebih besar, hiu, dan barakuda.
Status Konservasi : Least Concern